Corona : siapa yang menipu?

Editor: lefo author photo

Di beberapa media, berita tentang kerumunan orang-orang yang berburu takjil untuk santapan buka puasa begitu ramai, sedangkan aktifitas di pasar ikan cukup menurun tapi orang-orang masih berjualan, padahal virus corona yang diberitakan di media dan imbaun pemerintah untuk menjaga jarak gencar dilakukan. Tentu kerumunan ini bukan tanpa sebab dan masyarakat lainnya menganggap ini ketelodoran dan sikap takabur bertopeng iman. Tapi benarkah demikian? Mari kita lihat secara jeli.

Dari fakta di atas kita bisa menemukan orang-orang tidak berhenti berjualan, kerumunan tetap berjalan, mereka bergantung pada pendapatan harian, dan harus menghidupi dirinya sendiri. Jika mereka disuruh diam di rumah, siapa yang bertanggung jawab atas harga ikan yang mesti mereka bayar pada pelaksana? Siapa yang berani menjamin mereka tiap hari bisa makan? Jawabnya tidak ada.

Mama-mama yang berada di pasar, para pembeli yang datang, para nelayan yang mencari ikan, para penjual bensin dan minyak tanah, tukang ojek dan supir mobil angkutan yang mengantar mereka, hanya "pengada" yang menandakan mereka butuh hidup. Jika demikian, apa itu sebuah kesalahan? Jika itu sebuah kesalahan, berarti kita tidak jujur terhadap diri, bahwa setiap ikan dan santapan yang berada di atas meja makan butuh mereka.

Kuingat tulisan Setio Wibowo dalam majalah basis ketika mengulas tokoh dari Prancis bermata juling Jean Paul Sartre, mengatakan manusia kadang tidak bisa keluar dari pola pikir kerumunan yang terjebak dan menenggelamkan dirinya dalam mauvaise foi. Dengan kata lain orang-orang yang tidak autentik karena menyangkal dirinya tidak memiliki kebebasan dan hidup dalam kategori-kategori secara sosial atau psikologis.

Mungkin para penjual dan orang yang berkerumun bisa menipu diri mereka sendiri, bahwa perut lebih penting dari nyawa, tapi mereka telah jujur bahwa nyawa kadang butuh isi perut untuk hidup. Daripada seolah jujur kepentingan hidup tapi membiarkan mereka berjuang sendiri.

Tak heran jika "orang sering menjadi yang bukan dirinya", sebab kerumunan memaksa mereka bertindak yang bukan kebebasannya. Mereka dicipta untuk mengikuti, bahkan dipaksa patut untuk "menjadi sesuatu" tapi satu yang tidak disadari secara kolektif, siapa yang menjamin dan memberi izin, saat semua orang berdiam di rumah tapi bandara dan pelabuhan terus mengangkut virus ini terus berdatangan? Dan siapa yang membuat kerumunan itu tetap terjadi?

Ada sebuah ungkapan dalam sastra lisan Ternate "ma solano i salah, ma akhir mai salah" mengingatkan kita upaya pemerintah dalam penanganan covid 19 itu lemah, jika dari semula setiap orang yang datang, entah dari bandara atau pelabuhan di karantina, kemungkinan akan penyebaran semakin kecil, sebab dari data di lapangan keteledoran pemerintah menyebabkan angka penderita makin bertambah.

Dan sekarang, ketika semua orang bisa jadi yang dapat menularkan penyakit, kita atas nama "iman", mengatakan mama-mama yang berjuang hidup dan mereka yang berkerumun adalah sebuah kesalahan? Lalu mereka yang di awal telah melakukan kesalahan kita sebut apa?

Siapa yang tidak tidak tahu angka corona tiap waktu bertambah jika kerumunan tetap berlangsung? Tetapi siapa juga yang bisa memberi kepastian saat diam di rumah mereka tetap hidup? Nyatanya kematian tidak pandang bulu, yang dinyatakan sehat, bisa saja sejam kemudian pulang menemui keabadian.

Corona bisa jadi virus mematikan, tapi orang-orang terus menerjang kenyataan bahwa iman itu butuh isi perut bukan omelan. Iman itu butuh kejujuran bukan hipocrite berkata-kata menjaga negara bangsa tapi corong tambang-tambang selalu berasap, bukan diam di rumah menikmati gunung di gerus dan laut ditimbun.

Lalu siapa yang tidak autentik dan menipu, mereka yang tetap mempertahankan hidup atau mereka dengan sikap jumawa di awal yang mau tak mau menjilati ludahnya sendiri?

Penulis : Labirinosa, laki-laki biasa dari pesisir Halmahera
Share:
Komentar

Terbaru