Virus Corona: Fakta, Konspirasi, dan Misteri Ilahi

Editor: lefo author photo


Dunia sedang terguncang, virus corona yang awalnya diremehkan oleh banyak orang, termasuk masyarakat di Indonseia, sekarang sudah begitu mendunia, menyebar, dan membuat cemas umat manusia. Semua negara berbondong-bondong untuk mempersiapkan segala hal untuk menangkal datangnya virus ini.

Ada apa gerangan dengan dunia ini? Apakah kiamat sudah semakin dekat? Entahlah, yang jelas virus corona ini begitu nyata dan begitu membuat panik seluruh eleman masyarakat, baik di kota-kota maupun di kampung-kampung. Dunia terasa makin tidak aman saja.

Dari semua kegaduhan akibat virus corona ini, banyak orang lantas berspekulasi. Menurut sebagian orang, virus ini adalah fakta yang harus dihadapi, sebagian ada yang menganggap ini adalah konspirasi Amerika yang sedang perang dagang dengan Cina. Sebagian lagi menganggap ini semata-mata musibah dari Tuhan.

Mungkin semua alasan di atas benar, orang boleh-boleh saja mengungkapkan pandangannya masing-masing. Yang pasti, virus corona ini adalah fakta yang betul-betul harus dihadapi, dengan cara apapun.

Faktanya, virus corona ini memang belum ada obatnya, orang hanya bisa mengandalkan sistem imun (kekebalan tubuh), obat-obat yang tersedia hanya bisa mencegah. Inilah kenyataan pahit yang harus dihadapi bersama-sama. Bila belum ditemukan obatnya, artinya manusia harus lebih ekstra hati-hati karena penyebaran virus ini begitu masif dan tak terkendali.

Yang harus kita lakukan adalah ikuti instruksi pemerintah, jaga kesehatan, dan diam di rumah. Bukan malah membuat lucu-lucuan dan meremehkan virus ini. 

Selain itu, ada yang beranggapan bahwa virus ini tak lebih hanya konspirasi Amerika untuk melawan Cina. Mula-mula, Amerika membuat virus ini sekaligus anti-vaksinnya, lalu virus ini disebar di salah satu kota di Cina. Tujuannya, agar Cina lemah, lumpuh, dan pada saat itu juga Amerika mulai memperjualkan anti-vaksinnya. 

Tapi yang jelas, teori konspirasi biasanya hanya berdasar angan-angan atau khayalan dan kehendak sendiri, sangat subjektif dan kurang memberi fakta-fakta yang kuat. Artinya, teori konspirasi kurang begitu akurat untuk dipercaya. 

Ada pula yang mengaitkan virus ini dengan takdir Tuhan, sehingga banyak orang mengaitkan ini dengan misteri Ilahi. Misalnya begini, banyak orang meremehkan virus ini dengan mengatakan bahwa kalau sudah waktunya mati ya pasti mati, mau seekstra apapun menjaga kesehatan, tetap kematian tidak akan bisa dihindari. Jadi bukan akibat corona, tapi Tuhanlah yang menskenariokan semuanya
.
Pandangan ini boleh jadi benar, tapi agaknya terlalu keterlaluan. Banyak orang salah paham memahami masalah corona dan semata-mata hanya dihubungkan dengan Tuhan semata. 

Baiklah, mungkin kita sepakat bahwa virus ini datang dari Tuhan, tapi bukan berarti kita tak ada upaya untuk menangkalnya, pasrah pada kehendak Tuhan dan tidak melakukan usaha apapun adalah sebuah bentuk keberagamaan yang keliru dan fatal. Doa saja tidak cukup, sebab doa tak merubah keadaan, yang merubah keadaan adalah doa disertai dengan usaha yang mantab.

Terlepas dari itu semua, hemat saya, virus corona ini muncul di bumi pada waktu atau momen yang memang sangat pas. Kita diperintahkan untuk diam sejenak, jeda, dan membatasi berinteraksi dengan banyak orang.

Penyebaran virus corona yang begitu masif ini membuat kita bisa berpikir ulang dan merenung sejak tentang pencapaian-pencapaian manusia. Selama ini, dunia sangat penuh dengan percepatan, baik dalam hal kemajuan peradaban, teknologi, informasi, ekonomi, politik, dsb. Semua terasa begitu cepat dan masif, kita harus berpikir ulang tentang semua pencapaian manusia ini, apakah sudah betul? Apakah peradaban ini sudah berjalan secara benar?

Inilah momen yang pas agar kita melakukan jeda, berpikir, dan merenung sejenak tentang semua hal yang menjadi pencapaian manusia. Sebab, peradaban manusia juga tidak dicapai secara gratis dan murah, semua ada efeknya, selalu ada yang dikorbankan, dan selalu butuh korban. 

Bila dipikir-pikir, dunia sebelum corona adalah dunia yang juga sudah mematikan. Industrialisasi yang membuat kesenjangan sosial sangat tajam, orang miskin menjerit, matipun tak ada yang peduli. Belum lagi soal kerusakan lingkungan, pembakaran dan penebangan hutan secara liar, perang nuklir, perang atas nama agama, dsb. Semua ini juga amat sangat mematikan bagi keberlangsungan umat manusia.

Jadi, di samping menghadapi virus ini secara serius dan hati-hati, fenomena virus corona ini bisa juga dijadikan momen penting untuk merenungkan atau memikirkan ulang tentang semua hal yang ada di dunia ini. Apakah kita betul-betul telah menjadi manusia yang berperadaban? Apakah dunia sudah bergerak secara wajar? 

Rohmatul Izad. Dosen Filsafat IAIN Ponorogo
Share:
Komentar

Terbaru