kata-kata yang bercerita

Editor: lefo author photo



Judul               : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini
Penulis            : Eko Triono
Penerbit          : BASABASI
Tebal               : 12 x 20 Cm, 220 Hlm
ISBN               : 978-602-6651-67-9

Saran saya. Bacalah buku ini saat bangun tidur dan tidak dalam keadaan mengingat kekasih!
Bagi pembaca yang pernah membaca karya Jose Saramago berjudul Kain terbitan BASABASI, pasti menemukan paragraf-paragraf teramat panjang. paragraf-paragraf panjang ini juga kutemukan beberapa dalam buku Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini.

Entah apa maksud Eko yang kemudian mengambil ide menulis paragraf panjang, mungkin Eko sengaja mengajarkan pengetahuan baru bahwa “membaca seharusnya tidak perlu berkedip”, sebab dari beberapa cerpen yang pernah kubaca semisal Kahia Dalam Ajal yang Bergeming, Asam Garam, Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon, dan Reuni Dengan Enam Aku tidak memakai paragraf panjang.

Pernahkah mendengar kata avant garde? Bagi pembaca yang tidak akrab dengan kata avant garde mungkin  bertanya-tanya sebenarnya menulis seperti ini untuk apa? Jawabnya sederhana. Pembaca hanya perlu menyediakan ruang baru untuk memulai membaca cerita-cerita yang tidak layaknya seperti cerita pada umumnya.
***
Buku ini dimulai dengan catatan pengantar dari Anton Kurnia. Harus kuakui, sejak awal Eko telah memberi teks yang multi tafsir dalam tulisan cerita dari pertemuan kita, yaitu tentang Pertemuan “apa dan kabar”, percakapan-percakapannya dan nasehat ibu, memberi ruang tanya, kapan “apa dan kabar” lahir atau mati? bagaimanakah sejarah hidup mereka? Siapakah bapaknya, apakah “apa dan kabar” sama seperti Isa yang lahir dari rahim Maryam tanpa bapak?

Bagiku pertemuan “apa dan kabar” merupakan pertemuan manusia, apa dan kabar hidup. Sadar tak sadar “apa dan kabar” menjadi hidangan pembuka dalam setiap jamuan perjumpaan. Karena “apa dan kabar” adalah percakapan-percakapan maka ia menjadi cerita.

Dalam buku ini, Eko Triono hendak menjadi Meggy Z dalam kutipan syair lagu “orang lain berlabuh, aku yang tenggelam”. Orang lain adalah Eko yang berlabuh menikmati karyanya di tangan pembaca, sedangkan pembaca dibuat tak bisa berenang dalam konstruksi-konstruksi cerita dengan gaya melampui arti teks, liar semacam banteng dalam festifal di Spanyol. Penafsiran kata “cerita” tidak selamanya statis layaknya arti dalam kamus KBBI, di tangan Eko kata “cerita” bisa menjadi tokoh, berkeluarga, dan memilki keseharian.

cerita pendek dan cerita panjang dibesarkan di kompleks yang sama sebagai tetangga. Keluarga mereka bersahabat.” (Hlm 33)

Melihat gaya Eko menghadirkan teks mengingatkan aku pada kata-kata Derrida “nothing outside of the text”, Provokatif sekaligus ekuivok. Segala sesuatu bisa jadi cerita yang melahirkan makna baru, tak ada arti baku dalam sebuah kata. kita diajak bertamasya pada imajinasi-imajinasi, pada dunia imajiner sekaligus kenyataan.

Pada bagian cerita dalam ulangan harian kita (Hlm 128). Setiap pembaca dibuat oleh eko seolah-olah menghadapi soal-soal dan harus menjawabnya, tetapi semua jawaban adalah benar, sebab setiap jawaban akan dipilih berdasarkan akumulasi pengetahuannya. bukankah hidup kemudian mengajarkan manusia berhadap-hadapan dengan pilihan? Jika jawabnya tidak, maka apa yang dilakukan Eko dalam menentukan makna kata secara ekuivok menjadi sesuatu yang linear.

Eko mengingatkan kembali salah satu aliran dalam filsafat, yaitu eksistensialisme. Jika eksistensialisme beranggapan manusia merupakan realitas yang belum habis dibentuk, ia berhak menentukan warna hidupnya sendiri. Eko berhasil menunjukan “ke-Eko-an” dalam menulis seolah-olah setiap pembaca sendiri bertemu dengan buku, hanya dirinya sendiri sunyi berhadap-hadapan dengan wajah buku ini (Hlm 219).

Secara sadar atau tidak, entah pembaca maupun Eko merupakan hasil konstruksi dari hasil pikiran mereka sendiri. Jika Eko mampu keluar dari pakem penulisan dan menghadirkan makna teks secara baru dan liar, maka setiap pembaca juga tidak selamanya berhadapan-hadapan dengan kesunyian wajah buku, sebab sesuatu yang baru ditemukan oleh pembaca kadang menghadirkan riuh di tengah makna-makna yang tak habis di tafsir.

Setiap buku bukan tanpa celah, bukan barang suci, toh sesuatu yang suci sekalipun di tengah masyarakat milineal bisa menjadi cemohan. Begitu pula dengan buku Eko, ada beberapa penulisan yang mesti di lihat kembali, semisal cerita dalam hukum terbalik  yang ditulis secara terbalik dan mesti dibaca dari kanan ke kiri, pada alinea 26 (Hlm 150) ada satu kata lain ataukah lian?

oleh: Labirinosa (laki-laki biasa dari pulau Halmahera)

Share:
Komentar

Terbaru