Hari Raya Kurban-Perasaan

Editor: Kurator Redaksi author photo
istimewa

Anggrek Hitam
Lelaki dari pesisir Halmahera

Kalimat takbir pecah di langit hati setiap pecinta, sebentar lagi perayaan pengorbanan seorang Khalilullah (Nabi Ibrahim) untuk kekasih.

Membaca kembali peristiwa ini, memberi kita tiga pertanyaan, bagaimana keyakinan seorang Nabi Ibrahim ketika menghadapi permintaan ini? Kenapa harus anak yang menjadi persembahan untuk sebuah cinta? Benarkah kecintaan pula yang mengantar pada kepasrahan di depan singgasana keagungan hakiki?

Dalam satu syair penggalan Dola Bololo afa doka kamo-kamo, isa mote hoko mote, madodogu ogo ua, tego toma ngawa-ngawa[1] mengingatkan kita bahwa manusia haruslah mempunyai prinsip hidup. Jika manusia mempunyai prinsip, ia tidak mudah goyah sekalipun mengorbankan hal paling cinta dalam diri. Dengan kata lain sebuah keyakinan tidak selamanya berlandas akal dan rasional, melainkan kerinduan yang menghadirkan cinta untuk terus berserah serta usaha berada dalam pangkuan Ilahi.

Keyakinan bukan prinsip, tetapi dalam keyakinan, prinsip merupakan ejawantah dari nilai yang hadir pada perlakuan. Seseorang boleh bicara rindu tapi dalam perilaku mencerminkan cinta yang berbalas budi, sama saja seperti mengatakan mencintai tapi takut tersakiti apalagi mengorbankan. Jika demikian, ego dalam pribadi harus menerima segala keterasingan dari dunia sekaligus meninju keras congkaknya, tapi bukan tenggelam pada kematian kreatifitas untuk terus mencipta selama menjalani hidup, mungkin demikian jika kupinjam bahasa M Iqbal.

Cerita Nabi Ibrahim jika dihadapi dalam masa sekarang, bisa berarti sebuah kegilaan, bisa juga ayah telah kehilangan kasih sayang terhadap anak, dan pertunjukan kekejian manusia yang diukur berdasarkan kekuatan akal semata. Sebab pada periode ini, kita menyaksikan adegan seorang ayah yang kehilangan dirinya untuk berbakti pada anak, demi kebahagian yang terus-menerus menggerus dirinya dalam kubangan kesepian ilahi tanpa henti. Atau ayah bisa kehilangan nurani, tega melakukan tindakan asusila terhadap putrinya demi hasrat yang tidak bisa dikelola itu biasa dan lumrah.

Dalam ketundukkan hakiki, rindu adalah jalan yang menuntun setiap kekasih menuju rumah keabadian. Sedangkan di mata yang lain, mungkin ini bukan sebuah jalan menuju pada kehadirat, tapi bagi setiap kekasih jalan menujunya bisa menjadi apa saja, sekalipun itu hanya memaknai sebuah huruf Alif bahkan mengorbankan anaknya. Atas dasar kerinduan yang menghadirkan cinta pada yang esa, seorang kekasih Ilahi menghadiahi dirinya kebahagian.

Kisah ini kita bisa belajar cara mendidik dalam bentuk lain, semisal kecintaan pada anak bukan berarti memberi segala kemauan, tapi memberinya ruang untuk menghadirkan cinta pada Ilahi. Kisah-kisah yang memberi pesan seperti ini pernah kubaca dalam cerita Luqman dan pesan terhadap anaknya. Terakhir kubaca sebuah cerita pendek dengan judul “melepaskan Gara” milik Edi Mulyono di koran Jawa Pos, kisah seorang bapak yang melepaskan anaknya untuk belajar agama di sekolah pesantren.

Cerita-cerita mengorbankan sesuatu dalam hidup bisa jadi bukan sebuah pengorbanan, sebab dalam makna tertentu, ini bisa dibaca sebagai bentuk pengabdian diri pada realitas yang tunggal. Jika kita memaknai sebuah pengorbanan adalah bentuk dari diri untuk mendapatkan sesuatu, maka kehidupan tidak lebih dari sebuah hukum kausalitas, sedangkan dalam bentuk ini tidak ada lagi hukum demikian. Kita contohkan secara sederhana begini, api selalu membakar apa saja, akan tetapi dalam kisah raja Namrud membakar Nabi Ibrahim, ia tidak terbakar.

Menikah dan makna kurban
Jika kisah nabi Ibrahim dibaca oleh orang tua dalam mendidik anak, bagaimana dengan para bujang (yang belum menikah), mereka kurban apa? Apakah kurban perasaan seperti dalam sebuah meme di media sosial yang menggambarkan manusia patah hati karena ditinggal kekasih atau belum menikah?

Sebelum kuberi makna meme di atas, kupakai sebuah gambar aktor sulap Limbad sedang menggendong anak yang bersebelahan dengan perempuan dan sebuah caption “Limbad yang tidak bisa bicara saja bisa menikah, kamu kok tidak” sebagai ilustrasi, sebab fenomena menikah santer menjadi bahan bullying kepada kerabat yang belum menikah.

istimewa

Ketika para bujang melihat gambar Limbad, saat itulah para bujang menjadi subjek sekaligus objek. Gambar Limbad memberi makna kepada para bujang sebagai subjek yang bisa jadi menertawakan diri (para bujang lebih paham soal ini). Bersamaan dengan itu pula bujang merupakan objek yang ditertawakan sebagai “kurban”, lebih tepatnya kurban perasaan.

Menertawakan diri dan ditertawakan akibat “kurban perasaan” bisa dikonstruksi sebagai bagian untuk melangkah melepas yang fana, dengan kata lain perasaan-perasaan sebagai makhluk yang selalu dipengaruhi ingatan dan kenangan bisa ditanggalkan untuk menemui kebenaran Ilahi, sebab di zaman ini dorongan menikah bisa jadi bukan lagi ibadah melainkan hasrat yang tidak terbendung.

Tapi keyakinan untuk melangkah di pelaminan kadang remuk dan mungkin mustahil, alasannya sederhana “harga lamaran melebihi harga motor bebek”, hitungan matematis dengan segala kebutuhan menjadi acuan yang mesti dipersiapkan matang-matang dan seolah-olah itu urgen, dengan demikian mereka kadang memilih menjadi sufi (sunyi-sunyi selfie sendiri).

Jadi lebaran haji bukan lagi soal kisah Ibrahim, melainkan menghitung waktu yang dilewati dengan status bujang, maklum sebelum memasuki bulan haji dan sesudahnya menurut hitungan para tetua sebagai bulan yang baik untuk menikah. Sebab menjadi bujang yang “kurban perasaan” di lebaran haji, bisa memiliki kemungkinan lain untuk menemukan jalan ikhtiar meraih cinta yang hakiki, asal tidak makan hati melihat suami-suami yang bangun pagi telah disediakan kopi.




[1] Jangan seperti iringan awan, ke sana ikut ke sini ikut, tidak tentu arahnya, bergelantung diantara langit dan bumi.

Share:
Komentar

Terbaru