Review Buku : Mata Hari, Paulo Coelho

Editor: Indotema.com author photo
Judul : Mata Hari
Pengarang : Paulo Coelho
Halaman : 181
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2016

Review Buku:by Firman
disadur dari http://gpu.id/reviews



Selalu ada kisah-kisah menarik di balik sebuah peristiwa bersejarah.

Sebagian kisah tersebut tercatat rapi dalam buku-buku sejarah dan menjadi populer di seluruh dunia. Sebagian lainnya tak banyak diketahui orang. Bahkan kisah-kisah tersebut baru terungkap belasan hingga puluhan tahun kemudian.

Paulo Coelho mencoba menceritakan salah satu kisah tersebut lewat  buku terbarunya yang berjudul Mata Hari atau The Spy ( versi internasionalnya).

Novel Mata Hari berkisah tentang seorang wanita cantik bernama Mata Hari yang  hidup di masa perang dunia I.
Sinopsis

Margaretha Zelle adalah seorang perempuan Belanda yang hidup di akhir abad 19 sampai awal abad 20.

Masa-masa itu adalah masa-masa dimana perempuan hanya punya satu pilihan karir, menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Margaretha muda yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Leuwarden  beruntung bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Meski sebenarnya sekolah bukanlah tempat yang meninggalkan kesan bagus baginya. Di tempat itu ia berulang kali diperkosa oleh kepala sekolahnya sendiri.

Cepat atau lambat gadis itu tahu kalau ia akan dipinang oleh seorang laki-laki dan saat itu tiba kebebasannya akan hilang.

Margaretha tak mau itu terjadi. Ia mencari-cari cara agar tak berakhir sebagai sebagai Ibu rumah tangga yang hanya berdiam diri di rumah.

Singkat cerita, Ia akhirnya menemukan sebuah solusi yang menurutnya cukup bagus. Gadis itu menemukan sebuah iklan di surat kabar tentang seorang Kolonel yang bertugas di Hindia Belanda yang sedang mencari seorang istri.

Tanpa berpikir panjang, Margaretha menghubungi kolonel tersebut dan tak lama kemudian mereka menikah.

Akan tetapi ternyata itu adalah awal mula petaka demi petaka yang menimpanya. Selama tinggal di Indonesia, hidupnya tak sesuai harapan. Suaminya tak memperlakukannya dengan baik. Ia hanya dianggap sebagai pelayan dan pemuas nafsu saja.

Tak cuma itu, beberapa saat kemudian ia kehilangan anaknya karena penyakit dan suaminya yang diracun oleh orang tak dikenal.

Dengan menanggung duka yang sangat mendalam, Margaretha memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke eropa. Ia mengubah namanya menjadi Mata Hari dan kemudian mencoba peruntungannya di Prancis, tepatnya Paris.

Berbekal tarian tradisonal yang ia pelajari semasa tinggal di Indonesia, Mata Hari mampu menarik perhatian masyarakat Prancis. Namanya sempat menjadi buah bibir banyak orang karena sensualitas tariannya yang tak pernah dilihat oleh publik Prancis sebelumnya.

Saking tenarnya, Mata Hari bahkan diceritakan sangat dekat dengan beberapa tokoh penting di Perancis saat itu, dari mulai seniman, perancang busana, pengacara, sampai pejabat.

Akan tetapi lagi-lagi keberuntungan tak berada di pihaknya. Perang dunia Pertama Meletus di tahun 1914. Prancis saat itu sedang bersiap-siap untuk menghadapi serangan dari Jerman.

Aparat Prancis mengetatkan keamanan mereka dan menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata Jerman.

Mata Hari adalah satu dari antara orang yang mereka tangkap. Gadis itu dicurigai karena menjalin hubungan dengan orang-orang penting di Prancis. Selain itu asal usulnya yang tak jelas membuat kecurigaan kepadanya semakin menguat.

Mata Hari dijebloskan ke dalam penjara dan dieksekusi mati pada tanggal 15 Oktober 1917 di usianya yang ke 41.


Review

Novel ini  menarik menurut saya karena salah satu setting ceritanya bertempat di Indonesia.

Berkat buku ini saya tahu bahwa tidak semua warga Belanda yang tinggal di Indonesia di jaman penjajahan makmur dan bahagia. Terutama kisah tentang istri-istri para prajurit Belanda yang diceritakan mempunyai hidup yang penuh dengan keputusasaan.

Kepanikan dan ketakutan yang dialami oleh orang-orang eropa di masa perang dunia pun diceritakan dalam buku ini. Bagaimana Prancis, negara yang telah lama memproklamirkan diri sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan pun akhirnya juga merenggut kebebasan banyak orang.

Sayangnya, buku ini gagal untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan detail, terutama di bagian cerita yang mengambil latar di Indonesia.

Mata Hari tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun. Akan tetapi buku ini tak banyak menceritakan tentang aktivitasnya selama tinggal di Indonesia dan bagaimana ia mempelajari tari-tari tradisional Jawa.

Barangkali Paulo Coelho kesulitan untuk mendapatkan kisah yang lebih lengkap mengingat kejadiannya sudah berlangsung lebih dari seabad yang lalu.

Kesimpulan
Buku ini layak dibaca karena akan memberikan kita gambaran tentang kehidupan di masa-masa penjajahan dan perang dunia.

Akan tetapi jika anda adalah penggemar Paulo Coelho dan mengharapkan buku ini akan sebagus The Alchemist, lebih baik jangan membaca buku ini karena kemungkinan besar anda akan kecewa.


Share:
Komentar

Terbaru